Di samping pemuda itu ada sang teman yang melihat Dedik sangat terpesona dan sekilas terlihat Dedik naksir pada Bunga begitu pula sebaliknya. Sang teman mmempunyai inisiatif untuk mempertemukan mereka berdua. Akhirnya, bertemulah mereka berdua di warung kecil pinggir jalan.
Di tempat ini kisah kisah cinta mereka berdua terukir dengan perlahan. Karena Dedik orangnya pemalu apa lagi Bunga, gak mungkin pembicaraan di mulai dari sang wanita, suasana berlangsung kaku selama 30 menit dan Bunga berkata dalam hati ,"Boring ni... suasana kaku gini aku gak suka." Tapi tidak lama kemudian Dedik mulai mengeluarkan kata dari mulutnya.
Sang pemuda tidak berbincang dengan Bunga tapi ia hendak memesan minuman. Dedik seratya berkata dengan gugup ke penjual ,"Pak, pesan kopi paki garamnya sedikit." Terlontar kata garam tak sengaja dari mulut sang pemuda yang hendak berkata gula. karena saking gugupnya dia bilang garam bukan gula. Sentak kaget Bunga dan langsung berkata ,"Kok aneh banget kegemaranmu?" Tapi Dedik seraya menjelaskan ,"Dahulu aku anak pantai, setiap hari hidupku hanya penuh dengan laut, asin pahit semua kehidupanku telah tercermin dalam secangkir kopi ini."
Setalah mendengar penjelasan sang pemuda, Bunga pun tersentuh dan luluh hatinya ia merasa dalam hatinya bahwa Dedik adalah pria idamannya yang tanggung jawab, perhatian, dan baik. dan perbincangan diantara mereka pun terjalin. Disinilah kidah cinta mereka mulai bersemi yang dimulia dari secangkir kopi asin. Kisah cinta mereka berlangsung sampai kepada kursi pelaminan dan mereka hidup bahagia.
hari-hari mereka jalani dengan bersama. Setiap hari Dedik minim kopi yang dibuatkan oleh bunga. Tak lupa Bunga memberi garang sedikit setiap memerikan kopi kepada sang siami sebagai tanda kenangan yang mengingatkan kampung halamannya.
Kebersamaan mereka telah berlangsung sampai dengan 40 tahun. Walau ajal hampir menjemput tapi kebahagiaan mereka berdua tidak pernah usai. Tapi kesadaran Dedik yang sudah tua tersebut akan ajal dan kebohongan yang di tutup-tutupi selama ini menjadi akhir kisah mereka berdua. Sebelum ajal memanggil Dedik manulis sebuah surat untuk Bunga sang kekasih hatinya.
kini tiba saatnya tuk ku ungkap semua
ini tentang kopi asin yang setiap hari engkau hidangkan kepadaku
masih ingatkah engkau saat kita pacaran
aku bilang bahwa aku menyukai kopi asin sebagai kenangan masa kecilku
tapi semua itu hanya kebohongan belaka untuk menarik simpatimu
sebenarnya aku tak menyukai kopi asin
aku gugup saat memulai pembicaraan kita berdua
aku ingin mengatakan gulannya sedikit tapi yang terlontar malah garam yang sedikit
dan hari-hari yang ku lalui dengan kopi asin
aku tidak pernah menyesalinya
karena aku sayang engkau, Bunga....
andai aku diberi kesempatan tuk hidup satu kali lagi
aku akan berusaha untuk bisa menjadi suamimu lagi
walau setiap hari aku harus meminum kopi asin
sungguh aku rela



Tidak ada komentar:
Posting Komentar